In life Lifestyle Personal Story Of Mylife

Perasaan Saat Akan Menikah

photo from google
Saya sudah pernah menulis tentang how i met pakciwa bagian 1 di sini eh tapi setelah saya baca ulang kok saya bingung dengan tulisan saya sendiri ya (?)

Oke mari kita runut satu persatu kejadian kala itu...
  • Ketemu Pakciwa karena Pakciwa itu teman dari salah satu keluarga saya yang saat itu mau merayakan ulang tahunnya sebut saja namanya opa, yang kata opa, pakciwa itu baru putus sama pacarnya dan lagi mencari pacar baru, dan saya bilang sini kenalin sama saya biar dicomblangin sama teman saya kalau ada yang mau.
  • Akhirnya kami (pakciwa, opa, saya, dan 2 sahabat saya) sering jalan bareng mengalir begitu saja dan sambil memikirkan pakciwa dan opa ini maunya dicomblangin sama teman saya yang mana ya?
  • Saat itu memasuki hari ulang tahun pakciwa, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ngomong ke saya kalau mamanya mau datang bertamu, dengan polosnya saya bilang datang saja nanti saya tanya mamakku kalau ada tamu mau datang. Mamak saya saat saya beri kabar sepertinya ngeh kalau ada "sesuatu" karena mamak sampe rapat keluarga dengan sodaranya.
  • Hari yang pakciwa katakan kalau akan bertamu akhirnya tiba juga di lengkapi dengan 2 Bosara (nampan khas Bugis-Makassar) kue-kue manis tradisonal saya lupa kuenya apa, mamak dan sodaranya saling memberi kode sembari berbisik (tapi saya nguping :D) kira-kira mereka saling membenarkan prasangka mereka saat saya bilang ada tamu yang mau datang.
  • Dan pertemuan ini terus berlanjut, ada beberapa kali keluarga pakciwa datang kerumah sampai akhirnya tercapai kata sepakat untuk menikahkan kami.

Bagaimana perasaan saya saat itu?
Saya tak menganggap kesepakatan tersebut, karena saat saya flashback sekarang ini, saya tidak ingat lagi hari-hari tersebut sampai dimana mamak saya menelpon salah satu sahabat saya yang katanya berkata "tolong tanya lina jangan cueki mamaknya". Saya ingat itu karena sahabat saya menyampaikannya pesan mamak ke saya. 

iya saya cuek dan saya labil saat itu, ini kesimpulan saya saat ini. Saat itu saya masih kuliah sedang asik-asiknya larut dalam dunia kampus, bergaul dan berteman dan belum punya pekerjaan. Saat itu life plant atau rencana hidup masa depan saya itu adalah lulus kuliah, kerja, naik haji, lalu nikah. Hidup saya akan indah dan aman nih kalau semua itu tercapai.

Tapi ternyata oh ternyata belum lulus kuliah pun saya sudah di nikahkan karena para tetua (kakek nenek saya masih hidup dan sehat walafiat) di keluarga inti saya yang memutuskan, katanya kalau ada orang yang berniat baik, dari keluarga yang jelas asal usul nya (emang ada yang gak jelas?), cocok dan sepaham, maka terjalinlah ikatan pernikahan tersebut.

Saya kala itu nurut semua kata dan perintah orang tua (sampai sekarang juga masih), dan menjalani prosesi pernikahan yang semuanya disiapkan oleh keluarga, tak ada satupun saya turut campur didalamnya, selain karena saya malas untuk ikut campur dikeluarga saya memang begitu adanya.
Saya hanya dimintai pendapat ini dan itu, jika saya tidak menjawab disitulah mamak saya kecewa dan sedih yang akhirnya curhat ke sahabat saya, dan saat mendengar apa yang sahabat saya sampikan saya mau nangis, tapi malu sama sahabat-sahabat saya sehingga saya berlalu begitu saja meninggalkan mereka, saya merasa sudah berdosa sama mamak saya kala itu, mamak memang type orang yang tidak mau dicueki dan semua harus dirembukkan dan dibicarakan jika ada sesuatu yang terjadi.

photo from google
Saat saya membaca postingan mak Faradila Danasworo Putri yang di posting di KEB
Baca di sini : Yakin Siap Nikah?
saya sampe makjleb bacanya, 10 tahun yang lalu hanya poin Persiapan Fisik yang saya jalani saat itu, yang lainnya tidak ada, dan semoga kami kuat menjalani bahtera rumah tangga ini, Aamiin ya Allah.

Tapi buat kalian yang saat ini ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, ada baiknya kalian membaca postingan tersebut karena apa yang dijelaskan mak Faradila penting dan benar adanya. Biar semuanya siap dan "aman" saat berumah tangga. 
Adu argumen pasca pernikahan itu pasti akan ada, walau semua poin baik itu mental, ilmu, ekonomi maupun fisik semuanya aman terkendali dalam genggaman, namanya juga mempersatukan dua kepala dalam satu rumah tidak mungkin terjadi, yang ada adalah kerjasama, komunikasi dan menaklukkan ego masing-masinglah yang harus dihadapi.
Akhir kata : "janganki lupa bahagia"
salam bahagia dari keluarga ciwa :D

Related Articles

4 komentar:

  1. Thanks tuk share pengalamannya, mbak. Jadi saya semakin siap untuk melangkahkan kaki memasuki kehidupan pernikahan. 😘😘😘
    Bantu doain ya mbak supaya Tuhan segera mempertemukan saya dengan calon pasangan.
    #EhKokMalahCurcol 😂😂😂

    BalasHapus
  2. Hahahaa lucu banget proses awalnya. Bagi sebagian orang, jodoh memang ngalir begitu saja seperti itu. Bagi perempuan, itu bagian dari rejeki dunia yg luar biasa. Siap lahir batin itu penting banget tapi jangan pula menggunakan ukuran yg terlalu akademis karena jodoh itu nggak ada cabang ilmunya, hanya kuasa Allah semata. Semoga langgeng ya :))

    BalasHapus
  3. Jodoh nggak akan kemana ya Mak... Malah nyantol mak comblang :D Semoga sakinah mawadah warohmah selalu ya... :)

    BalasHapus